Sabtu, 07 Februari 2015

GLOSARIUM 2

1. Adat istiadat : sistem kebiasaan masyarakat.
2. Adaptif : menyesuaikan dengan perubahan sosial dan kebudayaan baru.
3. Apatis : acuh tak acuh.
4. Adaptasi : proses penyesuaian terhadap sesuatu.
5. Berpikir rasional : berpikir sesuai nalar.
6. Discovery : penemuan sesuatu yang telah ada, tetapi sebelumnya belum ditemukan.
7. Follower : pengikut atau pengekor.
8. Gemeinschaft : masyarakat paguyuban.
9. Gesselschaft : masyarakat patembayan.
10. Globalisasi : "tindakan" yang mendunia, dunia yang begitu luas kini seperti kertas yang dilipat atau dibuat seolah-olah menjadi kecil.
11. Inovasi : pengembangan dari sesuatu.
12. Inisiatif : mempunyai ide atau prakarsa membuat sesuatu.
13. Kritis : sikap tidak menerima begitu saja sesuatu hal.
14. Kritik : Argumen atau bantahan terhadap sesuatu.
15. Konsumerisme : budaya mengonsumsi sesuatu berlebihan.
16. Kebiasaan : bentuk-bentuk perbuatan yang menjadi pola perilaku.
17. Interaksi : hubungan dua orang atau lebih atau antara dua kelompok orang atau lebih atas dasar adanya aksi dan reaksi.
18. Komunikasi : proses pertukaran pikiran, perasaan, pendapat, berita, dan keterangan dengan bahasa atau dengan perlambangan audio dan visualnya.
19. Lapisan sosial : batas-batas sosial yang ada di masyarakat.
20. Masyarakat heterogen : masyarakat dengan latar belakang sosial, budaya yang berbeda-beda.
21. Lembaga sosial : norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada kebutuhan pokok manusia.
22. Kebudayaan : keseluruhan pengetahuan manusia yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
23. Kontak : hubungan yang menuju pada kerjasama atau pertentangan.

PULANG MALAM

Pulang Malam

Oleh : Joko Pinurbo, 1996



Kami tiba larut malam.
Ranjang telah terbakar 
dan api yang menjalar ke seluruh kamar
belum habis berkobar.

Di atas puing-puing mimpi
dan reruntuhan waktu
tubuh kami hangus dan membangkai
dan api siap melumatnya
menjadi asap dan abu.

Kami sepasang mayat
ingin kekal berpelukan dan tidur damai
dalam dekapan ranjang.

RANJANG KEMATIAN

Ranjang Kematian

Oleh : Joko Pinurbo, 1991



Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri.
Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali
oleh keturunan orang-orang mati.
Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia  fantasi.

Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu.
Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku.
Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula
mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi.

Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran
tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia.
Semalaman mereka telanjang, meniup seruling,
hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda.

MEMO CELANA

Memo Celana

untuk iqbal

Oleh : Joko Pinurbo



Belum lama pindah rumah, kau sudah terserang gundah.
Tidur selalu gelisah, mimpi tak pernah indah.
Seperti ada yang hilang, yang menggapai-gapai ingatan.

Itu dia. Tiba-tiba kau teringat sepasang celana usang,
celana kesayangan, yang tertinggal di tali jemuran.

Malam-malam kau datang ke bekas rumahmu dan berkata
kepada penghuni baru: "Maaf kami mau menjemput
sepasang celana yang tertinggal di halaman belakang.
Kami lupa mengajak mereka sebab waktu itu
kami tergesa." Kaujelaskan ciri-cirinya: warna pudar,
pantat koyak, dengkul sobek, enak dipakainya.

Dengan pandang mencurigakan orang baru itu berkata,
"Saya pernah melihat mereka berpelukan
dan berdansa riang di tali jemuran, tapi setelah itu
mereka entah kemana. Saya pikir, diam-diam Anda
telah mengambilnya."

Sudahlah. Mungkin celanamu sudah terbang jauh bersama
angin dan hujan. Terbang ke langit-langit kenangan.



RUMAH ORANG TUA

Rumah Orang Tua

Oleh : Raudal Tanjung Banua


Adakah masa kanakku
masih di tangan mereka

Di ruang tengah rumah mereka
duka gembira tak dibuat-buat
tak perlu menjadi terang.

Coba lempar pandang ke luar!
Kebun samping mereka
telah kutanami tanaman semestinya.

Tetapi kepada rumput, kata hati
yang keprucut, mereka bisa maklum.
Setengahnya bahkan kagum.

Kawan, jika engkau bertamu
ke rumah pinggir jalan besar itu
hingga kemalaman
ada tersedia dekat ruang tamu, sebuah kamar
bagi yang ingin lepas yang sulit dilepas!

Maka engkau akan lebih merindukan mereka
daripada merindukanku,
Dan mereka akan sering tanyakan kabarmu kepadaku.

Cemburu aku!

MENYESAL

Menyesal

Oleh : Ali Hasjmi


Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta

Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di pagi hari
Menuju arah padang bakti


Jumat, 06 Februari 2015

LAGU CINTA

Lagu Cinta

Oleh : Putu Wijaya


Kulihat malam begitu dalam
Dan angin berdesah bimbang
Aku pun tertegun sebelum melangkah
Masihkah kau simpan perasaan sayang
yang dahsyat dalam diriku

Kudengar senandung lamat-lamat
Begitu akrab dan kukenal
Seakan melempar ke masa silam
Ketika kita bertemu di ujung jalan
Saling membaca perasaan masing-masing
Dan setuju untuk sama-sama berjuang

Haruskah cinta berakhir sedih
Karena kita tak memilih

Tidak, kulihat nyala api masih membakar
Ketika kita terlena dan tubuh mengucap
Betapa dalam perasaan bertaut
Bahkan semakin bersatu ketika jalan tertutup

Dan aku pun bertambah yakin 
Tak ada yang mampu membunuh yang bertekad

Kulompati pagar dan menyelinap masuk
Berdiri di depan pintu memanggil namamu
Mengucap salam dan sebuah janji
Berikan aku kesempatan menyayangi

Kita telah bergetar di sini
Tidak pernah berubah hanya lebih dewasa
Tinggal kamu siap membuka pintu
Tiba saatnya untuk berhenti ragu.

KUTUKAN ITU

Kutukan Itu

Oleh : Gus TF, 1998


Kukatakan takdirku: Mencari.

Akhirnya datang kutukan itu. Kebebasan.
Adakah yang dapat engkau temukan? Tak ada.
Karena memang tak ada makna pada diriku.

Juru bisikku, kaukatakan dunia ini makna.
Kebebasan. Akhirnya datang kutukan itu.
Mencari. Tidakkah engkau budak Tuan Eksistensi?
Sepanjang hari, berabad-abad memikul kata: Makna,

esensi, makna, esensi. Sampai capek. sampai letih
dalam sajakku. Tapi tak ada. Karena makna, memang

hanya pada dirimu. Juru takdirku. Juru takdirku.

Larutkan aku dalam terali penjara maknamu.

KEBEBASAN

Kebebasan

Oleh : Rivai Avin


Di atas hancuran tembok yang kuruntuhkan
Berdiri aku atas kuda putihku, gaya dan jaya
Di hadapanku menghampar padang dan bukit
Dengan lengkungan langit yang membuatku lapar ruangan.

Lalu dadaku memberikan ruang
Bagi jantung yang memukul berdentangan
Memancarkan darah yang dia degap degupkan.

Darah kudaku pun ikut menjalang dan dia
berlonjak-lonjakan oleh kekesalan
Lalu kulepas dan kami menderu pacu ke pantai-pantai.


CATATAN HARIAN SEORANG DEMONSTRAN

Catatan Harian Seorang Demonstran

Oleh : Slamet Sukirnanto, 1966


Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.

Tertegun di tengah galau beribu bahasa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku?
Telah direbut demonstran di sampingku.

Udara panas kota jakarta
Kulihat ciliwung tetap cokelat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?

Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.

PUSAT

Pusat

Oleh : Toto Sudarto Bachtiar


Serasa apa hidup yang terbaring mati
Memandang musim yang mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara.

Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan pandang senja
Hidupku dalam tiupan usia.

Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bisa menari
Kata-kata yang pejuang tak mau mati.


Kamis, 05 Februari 2015

A SPECIAL WORLD

A Special World

Oleh : Sheelagh Lennon


A special world for you and me
A special bond one cannot see
It wraps us up in it's cocoon
And holds us fiercely and it's womb.
It's fingers spread like fine spun gold
Gently nestling us to the fold
Like silken thread it holds us fast
Bonds like this are mean to last.
And though at times a thread may break
A new one forms in it's wake
To bind us closer and keep us strong
In a special world, where we belong

JENUH

Jenuh

Oleh : Adi Darmawan


Aku mampu memilih perasaan,
tapi perlu belajar dengan jatuh dan bangkit
Pilihan ada, tapi yang dipancarkan adalah dominasi
Tak berhingga kuburan masa lalu,
memutar kisahnya di kepala ini

Merefresh telah membekas, 
hingga kau dan siapa pun mampu melihat
Aku seorang manusia di batas ambang normal,
dengan harapan gila
Menari tak berbaju, tak bervokal

Maaf mencari kesalahan yang bangkit
dari sadar
Harapan mencari gantungan yang cocok di kepala
Waktu menempatkan kita di penjara teristimewa

Biarkan !
Menjemulah !
lalu,
Pergi.
Ucapkan,
Aku tinggalkanmu
di tiga waktu ....

TEMAN

Teman

Oleh : Adi Darmawan


Aku tak lahir dari cahaya, juga tak lahir dari senyuman
Memiliki waktu bersama, palung jiwaku luluh
Entahlah cara buat senyummu terukir di sini,
di sanubariku

Walau kita tak berbahan dasar sama,
Tapi kupunya ikatan yang begitu ampuh
untuk kau rasakan
Dan itulah harapku pada kalian,
kunang-kunang kecilku

Jika nanti ku tak ada, tak menemani keluh-kesahmu
biarlah, lupakan
Jika aku hilang perlahan, mohon tinggalkan senyuman
dari jauh untukku
Jika di waktu lalu, luka banyak bermunculan dariku
mohon maaf dari rasa kasihku padamu teman

Sadar bahwa kau dan aku tak berikat, tapi
kalian adalah warna-warni di kegelapanku.

Sampai bertemu di alam bahagia,


Cara Mencegah Pikun

Perlambat Pikun dengan Latihan Otak



Proses menua dan usia lanjut memang proses alami. Fenomena menua ini juga terjadi pada otak. Hal yang paling dirasakan adalah kemunduran daya ingat (memori) secara normal maupun tidak normal yang kemudian menyebabkan demensia. Kepikunan sebenarnya bisa diperlambat melalui latihan khusus sebelum usia terlanjur tua.

Kemampuan daya ingat yang menurun secara normal pada lansia disebabkan oleh proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang tepat, dan kesulitan untuk memusatkan perhatian (berkonsentrasi). Ia juga memerlukan lebih banyak isyarat untuk mengingat kembali apa yang pernah diketahui.

Dr. Astuti, Sp.S. dari SMF (Staf Medik Fungsional) Saraf dari RS Dr. Sardjito Yogyakarta memberikan beberapa kiat mengatasi kemunduran daya ingat atau memperlambat kepikunan sebagai berikut.

1. Selalu belajar mengaktifkan otak. Bangkitkan minat untuk memakai pikiran, misalnya membaca buku-buku yang bermanfaat, berhitung, merancang, atau memasak.
2. Ulangi informasi baru untuk disimpan dalam ingatan.
3. Berlatih memusatkan perhatian (konsentrasi) misalnya, zikir, yoga, salat.
4. Berekreasi.
5. Mengikuti kegiatan sosial.
6. Konseling kepada spesialis saraf untuk melakukan deteksi dini demensia.
7. Menyusun catatan biografi sebagai aktivitas lansia yang terbaik dan sangat berharga.
8. Menjaga kesehatan tubuh dengan pola hidup sehat, misalnya makan-makanan sehat, istirahat cukup, serta menghindari rokok atau alkohol.
9. Melakukan senam otak berupa gerak latih otak (GLO) dan olahraga lain sesuai dengan kemampuan.

Sumber : Republika, 3 september 2006

TAK RINDUKAH KAU

Tak Rindukah Kau


Masih di pagi ini
Makhluk-makhluk raksasa di negeri ini berkelahi
Mulut-mulut mereka semburkan bara api

Di manakah air wudhu mengalir,
Di mana kendil-kendil suci terpatri
Di mana bunga-bunga wangi tersaji

Ketika malam menjelang
Masih saja berjuta orang berperang
Mata, pikir, dan jiwa tertutup tak bermakna

Wahai yang duduk di singgasana
Tak ngerikah kau
Melihat beronggok-onggok manusia berperut tambun
Mati kaku didatangi izrail karena tersedak harta haramnya
Tak ngerikah
Jika anak-anak yang lahir pada zaman sesudahmu
Berperilaku lebih terkutuk darimu
Tak rindukah kau
Pada negerimu yang bagai surga dunia ini
Dipenuhi orang-orang yang khusuk membangun surga di alam baka
Tak rindukah kau?


(Winarto dalam Horison, edisi 40 tahun 2006)

Rabu, 04 Februari 2015

DALAM MIMPI DI SUATU MALAM

Dalam Mimpi Di Suatu Malam

Oleh : Faisal Baras, 1946


Made kecil telah bergelung
Dalam sarung
Menghadap dinding
Bayang-bayang karena setir
Sedang di luar
Suara insect
Pohon-pohon kejang, hitam
Selapis gonggong anjing
Melengkung dan sedih
Tanpa kekasih
Selebihnya mimpi-mimpi
Tentang baju dan mobil-mobilan
Rumah yang indah
Dari tanah ....

BEDUGUL

Bedugul

Oleh : Ngurah Parsua, 1946


Cemara yang menyongsong bayangan
Kemuning sunyi, redup diderai angin
Temaram meru terkatup kabut, terkatub dingin
Hujan lagi gerimis menggigil di sini

Semua bebas dalam dekapan hari
Kan bersua dalam rumah batu sejati
Kristal sepi angin meluluhkan bayangan
Kemuning sunyi danau lenggang tenang

Semua asik bersiul sendiri-sendiri
Lurus gemerisik daun dari kelopak hati
Di sinikah sepi abadi, yang misteri

Di seberang danau sana. Sepi ia menunggu
Sedihku sendu menunggu pertemuan rasa
Cinta abadi dalam rahasia

RASA BARU

Rasa Baru

Oleh : Intoyo, 1912


Zaman beredar !
Alam bertukar !
Suasana terisi nyanyian hidup.
Kita manusia

Terkarunia
Badan, jiwa, bekal serba cukup
Marilah bersama
Berdaya upaya

Mencemerlangkan apa yang redup
Memperbaharu
Segala laku,

Mengembangkan semua kuncup
Biar terbuka segenap rasa,
Rasa baharu, dasar harmoni hidup.


KUBAKAR CINTAKU

Kubakar Cintaku

Oleh : Emha Ainun Nadjib


Kubakar cintaku
Dalam hening nafasMu
Perlahan lagu menyayat
Nasibku yang penat
Kubakar cintaku
Dalam sampai sunyiMu
Agar lindap, agar tatap
Dari hunjung merapat
Rindku terbang
Menembus penyap baying
Rindku burung malam
Menangkup cahaya: rahasia bintang-bintang
Kucabik mega, kucabik suara-suara
Betapa berat kau di sukma
Agar hati, agar sauh di pantai
Sampai juga di getar ini

MASA MUDA

Masa Muda


Ia kini telah datang
Mendekat padamu ananda
Sambutlah dengan riang
Masa muda masa berguna

             Ia yang kini telah datang
             Mendekat membawa harapan
             Isilah dengan semangat juang
             Menuntut ilmu, mempertebal iman

Masa mudamu nanda
Hanya datang sekali
Ia akan pergi secara diam
Tinggalkan dirimu berarti atau tidak berarti

Dikutif dari : Bahasa Indonesia, 4a Depdikbud

HIDUP BARU

Hidup Baru

Oleh : Ipih, H.R.

Hidup baru berkobar dalamku,
Segala indah dalam pandangan,
Hidup zamanku jadi ilhamku,
Zaman yang penuh perjuangan.

Jiwaku yang dulu kecewa,
Merana dalam malam kesepihan,
Sekarang kembali kuat gembira,
Dicium sinar api perjuangan.

Selagi jantungku berdegup gembira,
Memompakan darah merah pahlawan,
Selama itu dengan ikhlas,
Kuserahkan jiwaku pada perjuangan.


Senin, 02 Februari 2015

GLOSARIUM

1. Aerodinamika : ilmu yang berhubungan dengan gerakan udara, gas lain atau kakas yang bekerja pada benda padat apabila bergerak melalui gas atau apabila gas yang mengalir mengenai atau mengelilingi benda padat.
2. Aktivitas : keaktifan; kegiatan.
3. Alternatif : pilihan di antara dua atau beberapa kemungkinan.
4. Ambigu : bermakna lebih dari satu.
5. Artikulasi : lafal, pengucapan kata.
6. Autodidak : orang yang mendapat keahlian dengan cara belajar sendiri.
7. Deklamasi : penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya.
8. Dirgantara : ruang yang ada di sekeliling dan melingkupi bumi, terdiri atas ruang udara dan antariksa.
9. Dramatisasi : hal membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan atau mengharukan; pembawaan atau pembacaan puisi atau prosa secara drama.
10. Editor : orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan di majalah, surat kabar, dan sebagainya; penyunting.
11. Karier : perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya.
12. Kinesika : ilmu tentang pemakaian gerak tubuh (tangan, muka dan sebagainya) sebagai bagian dari proses komunikasi.
13. Kolaborasi : (perbuatan) kerja sama.
14. Konkret : nyata; benar-benar ada (berwujud, dapat dilihat, dan diraba).
15. Konstruksi : susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata.
16. Koordinatif : bersifat koordinasi.
17. Korelasi : hubungan timbal balik atau sebab akibat.
18. Metode : cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai  tujuan yang ditentukan.
19. Motivasi : dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu.
20. Patriotik : bersifat cinta pada tanah air.
21. Persepsi : tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya.
22. Pesimis : orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik  (khawatir, kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis harapan).
23. Prestisius : berkenaan dengan prestise (wibawa).
24. Produktif : bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar).
25. Redaktur : orang yang menangani bidang redaksi; pemimpin (kepala atau penerbit) surat kabar dan sebagainya.
26. Desentralisasi : sistem pemerintahan yang lebih banyak memberikan kekuasaan kepad pemerintahan daerah.
27. Eksekutif : pejabat pemerintah yang mempunyai kekuasaan menjalankan undang-undang.
28. Gunseikan : kepala pemerintahan militer pada masa pendudukan Jepang yang dirangkap oleh kepala staf.
29. Hegemoni : pemgaruh kepemimpinan, dominasi, atau kekuasaan suatu negara atas negara lain (atau negara bagian)
30. Ideologi : kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat  (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk keberlangsungan hidup.
31. Intervensi : campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, negara).
32. Kritik : kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat.
33. Legislatif : pejabat pemerintah yang mempunyai kekuasaan membuat undang-undang.
34. Membaca intensif : membaca yang dilakukan secara seksama terhadap rincian-rincian suatu teks.
35. Periodisasi : pembagian menurut zamannya.
36. Pidato : wacana yang disiapkan untuk dibacakan di depan khalayak.
37. Resesi : kelesuan atau kemunduran dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya.
38. Revitalisasi : proses, cara , perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali.
39. Sentralisasi : penyatuan segala sesuatu ke suatu tempat yang dianggap sebagai pusat; penyentralan; pemusatan.
40. Yudikatif : pejabat pemerintah yang mempunyai kekuasaan menjalankan peradilan dan hukum.

TANAH KELAHIRAN

Tanah Kelahiran

Oleh : Ramdhan K.H.


Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohonan pina
tembang menggema di dua kaki
Burangrang-Tangkubanprahu.

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun.

Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyian kentang sudah digali
Kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di hati gadis menurun.


Sumber : Puisi, Teori Apresiasi Bentuk dan Struktur, Drs. B.P Situmorang



TERATAI

Teratai

Oleh : Sanusi Pane

Kepada Ki Hajar Dewantara


Dalam kebun di tanah airku 
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri, laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, O, teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biarpun sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau turut menjaga zaman.

Sumber : Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa,2013

MANTERA

Mantera

Oleh : Asrul Sani


Raja dari batu hitam,
di balik rimba kelam,
Naga malam,
mari kemari !

Aku laksamana dari lautan menghantam malam hari
Aku panglima dari segala burung rajawali
Aku tutup segala kota, aku sebar segala api,
Aku jadikan belantara, jadi hutan mati

Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa
Budak-budak tidur dipangkuan bunda
Siapa kenal daku, aku kenal bahagia
tiada takut pada pitam,
tiada takut pada kelam
pitam dan kelam punya aku

Raja dari batu hitam,
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari !

Jaga segala gadis berhias diri,
Biar mereka pesta dan menari
Meningkah rebana
Aku akan menyanyi,
Engkau berjaga dari padam api timbul api.
Mereka akan terima cintaku
Siapa bercinta dengan daku,
Akan bercinta dengan tiada hari akhir

Raja dari batu hitam
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari
Mari kemari,
Mari !


Minggu, 01 Februari 2015

NYANYIAN PERAHU

Nyanyian Perahu

Oleh : Eka Budianta


Perahu itu harus berlayar sendiri
Nahkodanya tak peduli, terbuai mimpi
Perahu itu hilang di tengah samudera
Maukah engkau memegang kemudinya?
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Perahu itu mendambakan juru mudi
Yang tidak tega, yang mau mengerti
Ia hanya perahu tua dan sakit hati
Mencari pelabuhan sepanjang hidupnya

Aku mendengar perahu itu menangis
Di balik kabut, di sayup gelombang
Aduh, engkau yang bermata bening
Datang, cepat-cepatlah datang!

HATI YANG BOCOR

Hati yang Bocor

Oleh : Adi Darmawan



Tiada henti, tiada habis mengurai luruhnya jiwaku
Tak mungkin memisalkan apa pun dengan rasa,
rasa yang terlalu munafik jika ku mengobralnya
Tepi mana kau memulai dan satu lagi singgah di tepi lain,
yang ada aku di situ.

Bolehkah semua ini, karma yang menusuk di inti hidupku
Maaf kuterbangkan tepat di telingamu, memendam endapan
garam kehidupan, buatku sakit lebih dari sekedar kolesterol
Berangan, ah 'ku tak mau menulis lagi dan
mengukirnya di sepatumu yang kumal penuh debu.

Luka, pernahkah kau ciptakan itu disini, di hatiku
Luka, bolehkah ku minta kau buatku luka dan
boleh lebih,
Luka, inginnya kau membalut dengan garam dan
bakarlah hingga harum sengitnya buatmu bangkit
dari gairah lama, yang sangat usang bila teringat lagi

Sekejap saja bila ada titik di sini, maka akhirlah
dari kata yang tak sempat tercurahkan, bahagiakah dirimu?
Percuma perhatian lalu pergi tuk abaikan, menyimpan pecahan dan merakit
lagi
Inilah akhir dari serpihan rasaku, untukmu yang di sana
yang mungkin bahagia dan abadi di kehidupanmu.
Selamat tinggal,

SAMPAN KAYU

Sampan Kayu

Oleh : Marhalim Zaini


Akhirnya, senja itu juga yang jongkok,
yang perlahan menyusun sampan-sampan, menghitungnya sebagai barisan
sunyi
yang lelah, yang rebah, ditangkap diikat di akar-akar di kayu-kayu kaki kaki
rumah, dan cahaya kikis, sekejab lagi habis
direguk malam yang mengerang
di badanmu, di sarungku;
sangkar segala burung yang bakit
terbang ke hitam langit,
 ke hitam waktu.
Kapan ia lahir, tuan?
Bulan mandul, dan kematian
duduk-duduk memancing ikan 
di setiap sudut pantai.
Aku datang dan selalu terkenang
muasal pasir, dan siul sumbang
dari mancung bibirmu yang membuat
cekung pipimu, saat kucium berulang
biji-biji kopi mentah di lidahmu,
saat tak perlu kau sebut lagi
tentang pahitnya kerinduan
saat semua gurat lekat di daun-daun

BELAJAR MEMBACA

Belajar Membaca

Oleh : Sutardji Calzoum Bachri


Kakiku luka
Luka kakiku
Kakikau lukakah
Lukakah kakikau
Kakiku luka
Lukakaukah kakiku
Kalau lukaku lukakau
Kakiku kakikaukah
Kakikaukah kakiku
Kakiku luka kaku
Kalau lukaku lukakau
Lukakakukakiku
Lukakakukakikaukah
Lukakakukakikaukah
Lukakakukakiku


MELINTASI WAKTU

Melintasi Waktu

Oleh : Adi Darmawan



Kini tidak pernah jadi lalu saja
Kini tidak pernah jadi lebih dari yang lalu
Kini tidak pernah jadi semanis yang nanti
Kini 'ku lihat derai-derai di palung hati

Lalu buatku meringis perih
Lalu buatku menerjang dengan lamban
Lalu buatku mencicil hingga hubunganku dengan kini jadi ada

Nanti mengukir asaku dengan karatnya kalung yang bernilai nol
Nanti mengukir rasaku dengan majas ironi, membuatmu tersayu malu di depanku
Nanti menyandarkan daguku, di bahumu

Hanya begitu saja, menabung waktu di hidup yang buatku sulit mencari kamus
tentang Si khayal dari kubangan lumpur .....

JADI

Jadi

Oleh : Sutardji Calzoum Bachri


tidak setiap derita 
jadi luka
tidak setiap sepi 
jadi duri
tidak setiap tanda 
jadi makna
tidak setiap jawab 
jadi sebab
tidak setiap seru 
jadi mau
tidak setiap tangan 
jadi pegang
tidak setiap kabar 
jadi tahu
tidak setiap luka 
jadi kaca
memandang Kau pada wajahku!

TUHAN TELAH MENEGURMU

Tuhan Telah Menegurmu

Oleh : Apip Mustofa


Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat perut anak-anak yang kelaparan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat semayup suara azan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
Lewat gempa bumi yang berguncang
Deru angin yang meraung-raung kencang
Hujan dan banjir yang melintang-lintang
Adakah kau dengar?

DERAI-DERAI CEMARA

Derai-Derai Cemara

Oleh : Chairil Anwar


Cemara menderai sampai jauh
Hari terasa akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin terpendam.

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah lama bukan kanak lagi
Tapi ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini.

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu,
Ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhir kita menyerah.

GADIS PEMINTA-MINTA

Gadis Peminta-minta

Oleh : Toto Sudarto Bachtiar


Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil 
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menata katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

Popular Posts

Blogger templates

Sabtu, 07 Februari 2015

GLOSARIUM 2

1. Adat istiadat : sistem kebiasaan masyarakat.
2. Adaptif : menyesuaikan dengan perubahan sosial dan kebudayaan baru.
3. Apatis : acuh tak acuh.
4. Adaptasi : proses penyesuaian terhadap sesuatu.
5. Berpikir rasional : berpikir sesuai nalar.
6. Discovery : penemuan sesuatu yang telah ada, tetapi sebelumnya belum ditemukan.
7. Follower : pengikut atau pengekor.
8. Gemeinschaft : masyarakat paguyuban.
9. Gesselschaft : masyarakat patembayan.
10. Globalisasi : "tindakan" yang mendunia, dunia yang begitu luas kini seperti kertas yang dilipat atau dibuat seolah-olah menjadi kecil.
11. Inovasi : pengembangan dari sesuatu.
12. Inisiatif : mempunyai ide atau prakarsa membuat sesuatu.
13. Kritis : sikap tidak menerima begitu saja sesuatu hal.
14. Kritik : Argumen atau bantahan terhadap sesuatu.
15. Konsumerisme : budaya mengonsumsi sesuatu berlebihan.
16. Kebiasaan : bentuk-bentuk perbuatan yang menjadi pola perilaku.
17. Interaksi : hubungan dua orang atau lebih atau antara dua kelompok orang atau lebih atas dasar adanya aksi dan reaksi.
18. Komunikasi : proses pertukaran pikiran, perasaan, pendapat, berita, dan keterangan dengan bahasa atau dengan perlambangan audio dan visualnya.
19. Lapisan sosial : batas-batas sosial yang ada di masyarakat.
20. Masyarakat heterogen : masyarakat dengan latar belakang sosial, budaya yang berbeda-beda.
21. Lembaga sosial : norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada kebutuhan pokok manusia.
22. Kebudayaan : keseluruhan pengetahuan manusia yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
23. Kontak : hubungan yang menuju pada kerjasama atau pertentangan.

PULANG MALAM

Pulang Malam

Oleh : Joko Pinurbo, 1996



Kami tiba larut malam.
Ranjang telah terbakar 
dan api yang menjalar ke seluruh kamar
belum habis berkobar.

Di atas puing-puing mimpi
dan reruntuhan waktu
tubuh kami hangus dan membangkai
dan api siap melumatnya
menjadi asap dan abu.

Kami sepasang mayat
ingin kekal berpelukan dan tidur damai
dalam dekapan ranjang.

RANJANG KEMATIAN

Ranjang Kematian

Oleh : Joko Pinurbo, 1991



Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri.
Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali
oleh keturunan orang-orang mati.
Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia  fantasi.

Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu.
Bantal, guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku.
Dan selimut telah melumut. Telah melumut pula
mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi.

Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran
tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia.
Semalaman mereka telanjang, meniup seruling,
hingga terbitlah purnama. Dan manusia terpana, tergoda.

MEMO CELANA

Memo Celana

untuk iqbal

Oleh : Joko Pinurbo



Belum lama pindah rumah, kau sudah terserang gundah.
Tidur selalu gelisah, mimpi tak pernah indah.
Seperti ada yang hilang, yang menggapai-gapai ingatan.

Itu dia. Tiba-tiba kau teringat sepasang celana usang,
celana kesayangan, yang tertinggal di tali jemuran.

Malam-malam kau datang ke bekas rumahmu dan berkata
kepada penghuni baru: "Maaf kami mau menjemput
sepasang celana yang tertinggal di halaman belakang.
Kami lupa mengajak mereka sebab waktu itu
kami tergesa." Kaujelaskan ciri-cirinya: warna pudar,
pantat koyak, dengkul sobek, enak dipakainya.

Dengan pandang mencurigakan orang baru itu berkata,
"Saya pernah melihat mereka berpelukan
dan berdansa riang di tali jemuran, tapi setelah itu
mereka entah kemana. Saya pikir, diam-diam Anda
telah mengambilnya."

Sudahlah. Mungkin celanamu sudah terbang jauh bersama
angin dan hujan. Terbang ke langit-langit kenangan.



RUMAH ORANG TUA

Rumah Orang Tua

Oleh : Raudal Tanjung Banua


Adakah masa kanakku
masih di tangan mereka

Di ruang tengah rumah mereka
duka gembira tak dibuat-buat
tak perlu menjadi terang.

Coba lempar pandang ke luar!
Kebun samping mereka
telah kutanami tanaman semestinya.

Tetapi kepada rumput, kata hati
yang keprucut, mereka bisa maklum.
Setengahnya bahkan kagum.

Kawan, jika engkau bertamu
ke rumah pinggir jalan besar itu
hingga kemalaman
ada tersedia dekat ruang tamu, sebuah kamar
bagi yang ingin lepas yang sulit dilepas!

Maka engkau akan lebih merindukan mereka
daripada merindukanku,
Dan mereka akan sering tanyakan kabarmu kepadaku.

Cemburu aku!

MENYESAL

Menyesal

Oleh : Ali Hasjmi


Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi
Kini petang datang membayang
Batang usiaku sudah tinggi

Aku lalai di hari pagi
Beta lengah di masa muda
Kini hidup meracun hati
Miskin ilmu, miskin harta

Ah, apa guna kusesalkan
Menyesal tua tiada berguna
Hanya menambah luka sukma

Kepada yang muda kuharapkan
Atur barisan di pagi hari
Menuju arah padang bakti


Jumat, 06 Februari 2015

LAGU CINTA

Lagu Cinta

Oleh : Putu Wijaya


Kulihat malam begitu dalam
Dan angin berdesah bimbang
Aku pun tertegun sebelum melangkah
Masihkah kau simpan perasaan sayang
yang dahsyat dalam diriku

Kudengar senandung lamat-lamat
Begitu akrab dan kukenal
Seakan melempar ke masa silam
Ketika kita bertemu di ujung jalan
Saling membaca perasaan masing-masing
Dan setuju untuk sama-sama berjuang

Haruskah cinta berakhir sedih
Karena kita tak memilih

Tidak, kulihat nyala api masih membakar
Ketika kita terlena dan tubuh mengucap
Betapa dalam perasaan bertaut
Bahkan semakin bersatu ketika jalan tertutup

Dan aku pun bertambah yakin 
Tak ada yang mampu membunuh yang bertekad

Kulompati pagar dan menyelinap masuk
Berdiri di depan pintu memanggil namamu
Mengucap salam dan sebuah janji
Berikan aku kesempatan menyayangi

Kita telah bergetar di sini
Tidak pernah berubah hanya lebih dewasa
Tinggal kamu siap membuka pintu
Tiba saatnya untuk berhenti ragu.

KUTUKAN ITU

Kutukan Itu

Oleh : Gus TF, 1998


Kukatakan takdirku: Mencari.

Akhirnya datang kutukan itu. Kebebasan.
Adakah yang dapat engkau temukan? Tak ada.
Karena memang tak ada makna pada diriku.

Juru bisikku, kaukatakan dunia ini makna.
Kebebasan. Akhirnya datang kutukan itu.
Mencari. Tidakkah engkau budak Tuan Eksistensi?
Sepanjang hari, berabad-abad memikul kata: Makna,

esensi, makna, esensi. Sampai capek. sampai letih
dalam sajakku. Tapi tak ada. Karena makna, memang

hanya pada dirimu. Juru takdirku. Juru takdirku.

Larutkan aku dalam terali penjara maknamu.

KEBEBASAN

Kebebasan

Oleh : Rivai Avin


Di atas hancuran tembok yang kuruntuhkan
Berdiri aku atas kuda putihku, gaya dan jaya
Di hadapanku menghampar padang dan bukit
Dengan lengkungan langit yang membuatku lapar ruangan.

Lalu dadaku memberikan ruang
Bagi jantung yang memukul berdentangan
Memancarkan darah yang dia degap degupkan.

Darah kudaku pun ikut menjalang dan dia
berlonjak-lonjakan oleh kekesalan
Lalu kulepas dan kami menderu pacu ke pantai-pantai.


CATATAN HARIAN SEORANG DEMONSTRAN

Catatan Harian Seorang Demonstran

Oleh : Slamet Sukirnanto, 1966


Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.

Tertegun di tengah galau beribu bahasa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku?
Telah direbut demonstran di sampingku.

Udara panas kota jakarta
Kulihat ciliwung tetap cokelat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?

Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.

PUSAT

Pusat

Oleh : Toto Sudarto Bachtiar


Serasa apa hidup yang terbaring mati
Memandang musim yang mengandung luka
Serasa apa kisah sebuah dunia terhenti
Padaku, tanpa bicara.

Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan pandang senja
Hidupku dalam tiupan usia.

Tinggal seluruh hidup tersekat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bisa menari
Kata-kata yang pejuang tak mau mati.


Kamis, 05 Februari 2015

A SPECIAL WORLD

A Special World

Oleh : Sheelagh Lennon


A special world for you and me
A special bond one cannot see
It wraps us up in it's cocoon
And holds us fiercely and it's womb.
It's fingers spread like fine spun gold
Gently nestling us to the fold
Like silken thread it holds us fast
Bonds like this are mean to last.
And though at times a thread may break
A new one forms in it's wake
To bind us closer and keep us strong
In a special world, where we belong

JENUH

Jenuh

Oleh : Adi Darmawan


Aku mampu memilih perasaan,
tapi perlu belajar dengan jatuh dan bangkit
Pilihan ada, tapi yang dipancarkan adalah dominasi
Tak berhingga kuburan masa lalu,
memutar kisahnya di kepala ini

Merefresh telah membekas, 
hingga kau dan siapa pun mampu melihat
Aku seorang manusia di batas ambang normal,
dengan harapan gila
Menari tak berbaju, tak bervokal

Maaf mencari kesalahan yang bangkit
dari sadar
Harapan mencari gantungan yang cocok di kepala
Waktu menempatkan kita di penjara teristimewa

Biarkan !
Menjemulah !
lalu,
Pergi.
Ucapkan,
Aku tinggalkanmu
di tiga waktu ....

TEMAN

Teman

Oleh : Adi Darmawan


Aku tak lahir dari cahaya, juga tak lahir dari senyuman
Memiliki waktu bersama, palung jiwaku luluh
Entahlah cara buat senyummu terukir di sini,
di sanubariku

Walau kita tak berbahan dasar sama,
Tapi kupunya ikatan yang begitu ampuh
untuk kau rasakan
Dan itulah harapku pada kalian,
kunang-kunang kecilku

Jika nanti ku tak ada, tak menemani keluh-kesahmu
biarlah, lupakan
Jika aku hilang perlahan, mohon tinggalkan senyuman
dari jauh untukku
Jika di waktu lalu, luka banyak bermunculan dariku
mohon maaf dari rasa kasihku padamu teman

Sadar bahwa kau dan aku tak berikat, tapi
kalian adalah warna-warni di kegelapanku.

Sampai bertemu di alam bahagia,


Cara Mencegah Pikun

Perlambat Pikun dengan Latihan Otak



Proses menua dan usia lanjut memang proses alami. Fenomena menua ini juga terjadi pada otak. Hal yang paling dirasakan adalah kemunduran daya ingat (memori) secara normal maupun tidak normal yang kemudian menyebabkan demensia. Kepikunan sebenarnya bisa diperlambat melalui latihan khusus sebelum usia terlanjur tua.

Kemampuan daya ingat yang menurun secara normal pada lansia disebabkan oleh proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang tepat, dan kesulitan untuk memusatkan perhatian (berkonsentrasi). Ia juga memerlukan lebih banyak isyarat untuk mengingat kembali apa yang pernah diketahui.

Dr. Astuti, Sp.S. dari SMF (Staf Medik Fungsional) Saraf dari RS Dr. Sardjito Yogyakarta memberikan beberapa kiat mengatasi kemunduran daya ingat atau memperlambat kepikunan sebagai berikut.

1. Selalu belajar mengaktifkan otak. Bangkitkan minat untuk memakai pikiran, misalnya membaca buku-buku yang bermanfaat, berhitung, merancang, atau memasak.
2. Ulangi informasi baru untuk disimpan dalam ingatan.
3. Berlatih memusatkan perhatian (konsentrasi) misalnya, zikir, yoga, salat.
4. Berekreasi.
5. Mengikuti kegiatan sosial.
6. Konseling kepada spesialis saraf untuk melakukan deteksi dini demensia.
7. Menyusun catatan biografi sebagai aktivitas lansia yang terbaik dan sangat berharga.
8. Menjaga kesehatan tubuh dengan pola hidup sehat, misalnya makan-makanan sehat, istirahat cukup, serta menghindari rokok atau alkohol.
9. Melakukan senam otak berupa gerak latih otak (GLO) dan olahraga lain sesuai dengan kemampuan.

Sumber : Republika, 3 september 2006

TAK RINDUKAH KAU

Tak Rindukah Kau


Masih di pagi ini
Makhluk-makhluk raksasa di negeri ini berkelahi
Mulut-mulut mereka semburkan bara api

Di manakah air wudhu mengalir,
Di mana kendil-kendil suci terpatri
Di mana bunga-bunga wangi tersaji

Ketika malam menjelang
Masih saja berjuta orang berperang
Mata, pikir, dan jiwa tertutup tak bermakna

Wahai yang duduk di singgasana
Tak ngerikah kau
Melihat beronggok-onggok manusia berperut tambun
Mati kaku didatangi izrail karena tersedak harta haramnya
Tak ngerikah
Jika anak-anak yang lahir pada zaman sesudahmu
Berperilaku lebih terkutuk darimu
Tak rindukah kau
Pada negerimu yang bagai surga dunia ini
Dipenuhi orang-orang yang khusuk membangun surga di alam baka
Tak rindukah kau?


(Winarto dalam Horison, edisi 40 tahun 2006)

Rabu, 04 Februari 2015

DALAM MIMPI DI SUATU MALAM

Dalam Mimpi Di Suatu Malam

Oleh : Faisal Baras, 1946


Made kecil telah bergelung
Dalam sarung
Menghadap dinding
Bayang-bayang karena setir
Sedang di luar
Suara insect
Pohon-pohon kejang, hitam
Selapis gonggong anjing
Melengkung dan sedih
Tanpa kekasih
Selebihnya mimpi-mimpi
Tentang baju dan mobil-mobilan
Rumah yang indah
Dari tanah ....

BEDUGUL

Bedugul

Oleh : Ngurah Parsua, 1946


Cemara yang menyongsong bayangan
Kemuning sunyi, redup diderai angin
Temaram meru terkatup kabut, terkatub dingin
Hujan lagi gerimis menggigil di sini

Semua bebas dalam dekapan hari
Kan bersua dalam rumah batu sejati
Kristal sepi angin meluluhkan bayangan
Kemuning sunyi danau lenggang tenang

Semua asik bersiul sendiri-sendiri
Lurus gemerisik daun dari kelopak hati
Di sinikah sepi abadi, yang misteri

Di seberang danau sana. Sepi ia menunggu
Sedihku sendu menunggu pertemuan rasa
Cinta abadi dalam rahasia

RASA BARU

Rasa Baru

Oleh : Intoyo, 1912


Zaman beredar !
Alam bertukar !
Suasana terisi nyanyian hidup.
Kita manusia

Terkarunia
Badan, jiwa, bekal serba cukup
Marilah bersama
Berdaya upaya

Mencemerlangkan apa yang redup
Memperbaharu
Segala laku,

Mengembangkan semua kuncup
Biar terbuka segenap rasa,
Rasa baharu, dasar harmoni hidup.


KUBAKAR CINTAKU

Kubakar Cintaku

Oleh : Emha Ainun Nadjib


Kubakar cintaku
Dalam hening nafasMu
Perlahan lagu menyayat
Nasibku yang penat
Kubakar cintaku
Dalam sampai sunyiMu
Agar lindap, agar tatap
Dari hunjung merapat
Rindku terbang
Menembus penyap baying
Rindku burung malam
Menangkup cahaya: rahasia bintang-bintang
Kucabik mega, kucabik suara-suara
Betapa berat kau di sukma
Agar hati, agar sauh di pantai
Sampai juga di getar ini

MASA MUDA

Masa Muda


Ia kini telah datang
Mendekat padamu ananda
Sambutlah dengan riang
Masa muda masa berguna

             Ia yang kini telah datang
             Mendekat membawa harapan
             Isilah dengan semangat juang
             Menuntut ilmu, mempertebal iman

Masa mudamu nanda
Hanya datang sekali
Ia akan pergi secara diam
Tinggalkan dirimu berarti atau tidak berarti

Dikutif dari : Bahasa Indonesia, 4a Depdikbud

HIDUP BARU

Hidup Baru

Oleh : Ipih, H.R.

Hidup baru berkobar dalamku,
Segala indah dalam pandangan,
Hidup zamanku jadi ilhamku,
Zaman yang penuh perjuangan.

Jiwaku yang dulu kecewa,
Merana dalam malam kesepihan,
Sekarang kembali kuat gembira,
Dicium sinar api perjuangan.

Selagi jantungku berdegup gembira,
Memompakan darah merah pahlawan,
Selama itu dengan ikhlas,
Kuserahkan jiwaku pada perjuangan.


Senin, 02 Februari 2015

GLOSARIUM

1. Aerodinamika : ilmu yang berhubungan dengan gerakan udara, gas lain atau kakas yang bekerja pada benda padat apabila bergerak melalui gas atau apabila gas yang mengalir mengenai atau mengelilingi benda padat.
2. Aktivitas : keaktifan; kegiatan.
3. Alternatif : pilihan di antara dua atau beberapa kemungkinan.
4. Ambigu : bermakna lebih dari satu.
5. Artikulasi : lafal, pengucapan kata.
6. Autodidak : orang yang mendapat keahlian dengan cara belajar sendiri.
7. Deklamasi : penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya.
8. Dirgantara : ruang yang ada di sekeliling dan melingkupi bumi, terdiri atas ruang udara dan antariksa.
9. Dramatisasi : hal membuat suatu peristiwa menjadi mengesankan atau mengharukan; pembawaan atau pembacaan puisi atau prosa secara drama.
10. Editor : orang yang mengedit naskah tulisan atau karangan yang akan diterbitkan di majalah, surat kabar, dan sebagainya; penyunting.
11. Karier : perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya.
12. Kinesika : ilmu tentang pemakaian gerak tubuh (tangan, muka dan sebagainya) sebagai bagian dari proses komunikasi.
13. Kolaborasi : (perbuatan) kerja sama.
14. Konkret : nyata; benar-benar ada (berwujud, dapat dilihat, dan diraba).
15. Konstruksi : susunan dan hubungan kata dalam kalimat atau kelompok kata.
16. Koordinatif : bersifat koordinasi.
17. Korelasi : hubungan timbal balik atau sebab akibat.
18. Metode : cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai  tujuan yang ditentukan.
19. Motivasi : dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu.
20. Patriotik : bersifat cinta pada tanah air.
21. Persepsi : tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu; serapan; proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya.
22. Pesimis : orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik  (khawatir, kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis harapan).
23. Prestisius : berkenaan dengan prestise (wibawa).
24. Produktif : bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar).
25. Redaktur : orang yang menangani bidang redaksi; pemimpin (kepala atau penerbit) surat kabar dan sebagainya.
26. Desentralisasi : sistem pemerintahan yang lebih banyak memberikan kekuasaan kepad pemerintahan daerah.
27. Eksekutif : pejabat pemerintah yang mempunyai kekuasaan menjalankan undang-undang.
28. Gunseikan : kepala pemerintahan militer pada masa pendudukan Jepang yang dirangkap oleh kepala staf.
29. Hegemoni : pemgaruh kepemimpinan, dominasi, atau kekuasaan suatu negara atas negara lain (atau negara bagian)
30. Ideologi : kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat  (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk keberlangsungan hidup.
31. Intervensi : campur tangan dalam perselisihan antara dua pihak (orang, golongan, negara).
32. Kritik : kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat.
33. Legislatif : pejabat pemerintah yang mempunyai kekuasaan membuat undang-undang.
34. Membaca intensif : membaca yang dilakukan secara seksama terhadap rincian-rincian suatu teks.
35. Periodisasi : pembagian menurut zamannya.
36. Pidato : wacana yang disiapkan untuk dibacakan di depan khalayak.
37. Resesi : kelesuan atau kemunduran dalam kegiatan dagang, industri, dan sebagainya.
38. Revitalisasi : proses, cara , perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali.
39. Sentralisasi : penyatuan segala sesuatu ke suatu tempat yang dianggap sebagai pusat; penyentralan; pemusatan.
40. Yudikatif : pejabat pemerintah yang mempunyai kekuasaan menjalankan peradilan dan hukum.

TANAH KELAHIRAN

Tanah Kelahiran

Oleh : Ramdhan K.H.


Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohonan pina
tembang menggema di dua kaki
Burangrang-Tangkubanprahu.

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di air tipis menurun.

Membelit tangga di tanah merah
Dikenal gadis-gadis dari bukit
Nyanyian kentang sudah digali
Kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk
Jamrut di hati gadis menurun.


Sumber : Puisi, Teori Apresiasi Bentuk dan Struktur, Drs. B.P Situmorang



TERATAI

Teratai

Oleh : Sanusi Pane

Kepada Ki Hajar Dewantara


Dalam kebun di tanah airku 
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tiada terlihat orang yang lalu.

Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri, laksmi mengarang
Biarpun dia diabaikan orang
Seroja kembang gemilang mulia.

Teruslah, O, teratai bahagia
Berseri di kebun Indonesia
Biarpun sedikit penjaga taman.

Biarpun engkau tidak dilihat,
Biarpun engkau tidak diminat
Engkau turut menjaga zaman.

Sumber : Apresiasi Puisi untuk Pelajar dan Mahasiswa,2013

DINGIN TAK TERCATAT

Dingin Tak Tercatat

Oleh : Goenawan Mohamad


Dingin tak tercatat

pada termometer

Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai

mengusir, tapi kita tetap saja

di sana. Seakan-akan

gerimis raib

dan cahaya berenang

mempermainkan warna

Tuhan, kenapa kita bisa berbahagia?

MANTERA

Mantera

Oleh : Asrul Sani


Raja dari batu hitam,
di balik rimba kelam,
Naga malam,
mari kemari !

Aku laksamana dari lautan menghantam malam hari
Aku panglima dari segala burung rajawali
Aku tutup segala kota, aku sebar segala api,
Aku jadikan belantara, jadi hutan mati

Tapi aku jaga supaya janda-janda tidak diperkosa
Budak-budak tidur dipangkuan bunda
Siapa kenal daku, aku kenal bahagia
tiada takut pada pitam,
tiada takut pada kelam
pitam dan kelam punya aku

Raja dari batu hitam,
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari !

Jaga segala gadis berhias diri,
Biar mereka pesta dan menari
Meningkah rebana
Aku akan menyanyi,
Engkau berjaga dari padam api timbul api.
Mereka akan terima cintaku
Siapa bercinta dengan daku,
Akan bercinta dengan tiada hari akhir

Raja dari batu hitam
Di balik rimba kelam,
Naga malam,
Mari kemari
Mari kemari,
Mari !


Minggu, 01 Februari 2015

NYANYIAN PERAHU

Nyanyian Perahu

Oleh : Eka Budianta


Perahu itu harus berlayar sendiri
Nahkodanya tak peduli, terbuai mimpi
Perahu itu hilang di tengah samudera
Maukah engkau memegang kemudinya?
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil

Perahu itu mendambakan juru mudi
Yang tidak tega, yang mau mengerti
Ia hanya perahu tua dan sakit hati
Mencari pelabuhan sepanjang hidupnya

Aku mendengar perahu itu menangis
Di balik kabut, di sayup gelombang
Aduh, engkau yang bermata bening
Datang, cepat-cepatlah datang!

HATI YANG BOCOR

Hati yang Bocor

Oleh : Adi Darmawan



Tiada henti, tiada habis mengurai luruhnya jiwaku
Tak mungkin memisalkan apa pun dengan rasa,
rasa yang terlalu munafik jika ku mengobralnya
Tepi mana kau memulai dan satu lagi singgah di tepi lain,
yang ada aku di situ.

Bolehkah semua ini, karma yang menusuk di inti hidupku
Maaf kuterbangkan tepat di telingamu, memendam endapan
garam kehidupan, buatku sakit lebih dari sekedar kolesterol
Berangan, ah 'ku tak mau menulis lagi dan
mengukirnya di sepatumu yang kumal penuh debu.

Luka, pernahkah kau ciptakan itu disini, di hatiku
Luka, bolehkah ku minta kau buatku luka dan
boleh lebih,
Luka, inginnya kau membalut dengan garam dan
bakarlah hingga harum sengitnya buatmu bangkit
dari gairah lama, yang sangat usang bila teringat lagi

Sekejap saja bila ada titik di sini, maka akhirlah
dari kata yang tak sempat tercurahkan, bahagiakah dirimu?
Percuma perhatian lalu pergi tuk abaikan, menyimpan pecahan dan merakit
lagi
Inilah akhir dari serpihan rasaku, untukmu yang di sana
yang mungkin bahagia dan abadi di kehidupanmu.
Selamat tinggal,

SAMPAN KAYU

Sampan Kayu

Oleh : Marhalim Zaini


Akhirnya, senja itu juga yang jongkok,
yang perlahan menyusun sampan-sampan, menghitungnya sebagai barisan
sunyi
yang lelah, yang rebah, ditangkap diikat di akar-akar di kayu-kayu kaki kaki
rumah, dan cahaya kikis, sekejab lagi habis
direguk malam yang mengerang
di badanmu, di sarungku;
sangkar segala burung yang bakit
terbang ke hitam langit,
 ke hitam waktu.
Kapan ia lahir, tuan?
Bulan mandul, dan kematian
duduk-duduk memancing ikan 
di setiap sudut pantai.
Aku datang dan selalu terkenang
muasal pasir, dan siul sumbang
dari mancung bibirmu yang membuat
cekung pipimu, saat kucium berulang
biji-biji kopi mentah di lidahmu,
saat tak perlu kau sebut lagi
tentang pahitnya kerinduan
saat semua gurat lekat di daun-daun

BELAJAR MEMBACA

Belajar Membaca

Oleh : Sutardji Calzoum Bachri


Kakiku luka
Luka kakiku
Kakikau lukakah
Lukakah kakikau
Kakiku luka
Lukakaukah kakiku
Kalau lukaku lukakau
Kakiku kakikaukah
Kakikaukah kakiku
Kakiku luka kaku
Kalau lukaku lukakau
Lukakakukakiku
Lukakakukakikaukah
Lukakakukakikaukah
Lukakakukakiku


MELINTASI WAKTU

Melintasi Waktu

Oleh : Adi Darmawan



Kini tidak pernah jadi lalu saja
Kini tidak pernah jadi lebih dari yang lalu
Kini tidak pernah jadi semanis yang nanti
Kini 'ku lihat derai-derai di palung hati

Lalu buatku meringis perih
Lalu buatku menerjang dengan lamban
Lalu buatku mencicil hingga hubunganku dengan kini jadi ada

Nanti mengukir asaku dengan karatnya kalung yang bernilai nol
Nanti mengukir rasaku dengan majas ironi, membuatmu tersayu malu di depanku
Nanti menyandarkan daguku, di bahumu

Hanya begitu saja, menabung waktu di hidup yang buatku sulit mencari kamus
tentang Si khayal dari kubangan lumpur .....

JADI

Jadi

Oleh : Sutardji Calzoum Bachri


tidak setiap derita 
jadi luka
tidak setiap sepi 
jadi duri
tidak setiap tanda 
jadi makna
tidak setiap jawab 
jadi sebab
tidak setiap seru 
jadi mau
tidak setiap tangan 
jadi pegang
tidak setiap kabar 
jadi tahu
tidak setiap luka 
jadi kaca
memandang Kau pada wajahku!

PULAU SAMOSIR

Pulau Samosir

Oleh : Sitor Situmorang


Angin bahorok
Bertiup di lereng bukit
Membawa kekeringan
Membawa kematangan

Daerah danau Toba
Lagu hidup dan kerja
Bangsa pembajak
Lemah lembut kerbau

Yang memberi aku lagu
"Pulau di tengah danau"
Tandus dan setia ....

TUHAN TELAH MENEGURMU

Tuhan Telah Menegurmu

Oleh : Apip Mustofa


Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat perut anak-anak yang kelaparan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
Lewat semayup suara azan
Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
Lewat gempa bumi yang berguncang
Deru angin yang meraung-raung kencang
Hujan dan banjir yang melintang-lintang
Adakah kau dengar?

DERAI-DERAI CEMARA

Derai-Derai Cemara

Oleh : Chairil Anwar


Cemara menderai sampai jauh
Hari terasa akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin terpendam.

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah lama bukan kanak lagi
Tapi ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini.

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu,
Ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhir kita menyerah.

GADIS PEMINTA-MINTA

Gadis Peminta-minta

Oleh : Toto Sudarto Bachtiar


Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil 
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menata katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

Search Me

Mengenai Saya

Foto saya

My name is Adi Darmawan. I come from Bogor. My hobby is solitude in the darkness and write.