Latest Posts

Kamis, 28 Januari 2016

MELIHAT API BEKERJA

Melihat Api Bekerja


Oleh: M Aan Mansyur


Di kota ini ruang bermain
adalah sesuatu yang hilang
dan tak seorang pun berharap
menemukannya. Anak-anak tidak
butuh permainan. Mereka akan
memilih kegemaran masing-masing
setelah dewasa. Menjadi dewasa
bukan menunggu negara bangun.
Menjadi dewasa adalah menu
favorit di restoran cepat saji.

Para tetangga lebih butuh pagar
tinggi daripada pendidikan. Sekolah
adalah cara yang baik untuk
istirahat berkelahi di rumah. Anak-
anak membeli banyak penghapus
dan sedikit buku. Terlalu banyak hal
yang mereka katakan dan gampang
jatuh cinta. Mereka menganggap
jatuh cinta sebagai kata kerja dan 
ingin mengucapkannya sesering
mungkin. Mereka tidak tahu jatuh
cinta dan mencintai adalah dua
penderitaan yang berbeda.

Jalan-jalan dan rumah kian lebar.
Semakin banyak orang yang hidup
dalam kehilangan. Harapan adalah
kalimat larangan, sesuatu yang
dihapus para polisi setiap mereka
temukan di pintu-pintu toko.
Hidup tanpa curiga adalah hidup
yang terkutuk. Kawan adalah lawan
yang tersenyum kepadamu.

Selebihnya, tanpa mereka tahu,
sepasang kekasih diam-diam
ingin mengubah kota ini menjadi 
abu. Aku mencintaimu dan kau
mencintaiku---meskipun tidak 
setiap waktu. Kita menghabiskan
tabungan pernikahan untuk beli
bensin.

Kita akan berciuman sambil
melihat api bekerja.

KATA

Kata

Oleh: Subagio Sastrowardoyo


Asal mula adalah kata
jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni

Oleh: Sapardi Djoko Darmono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

1989

JANGAN ENGKAU MENYEBUT JUA

Jangan Engkau Menyebut Jua

Oleh: Linus Suryadi AG

Jangan engkau menyebut jua
bahwa hujan belum lagi reda
sebab kelam melalui jendela
rela menghantarkan bauan bunga

bayangan terakhir mengusir kita
kapan ruang sunyi pun kian hampa
membingkai rawan dalam kenangan
di dalam abstraksi di dalam diam

meninggalkan segumpalan daging
seolah kain dalam ayunan angin
bagaikan awan menguraikan hujan
adalah angan dalam rindu-dendam

1973

Rabu, 27 Januari 2016

RAHASIA

Rahasia

Oleh : Korrie Layun Rampan

Seperti sejumlah kata
yang menggelepar keluar
Meniti buih demi buih
Dunia yang terlantar

Seperti sejumlah musim
Yang kering, basah, dan mandi cahaya
Merangkak pada sumbu
jantung kita

Seperti sejumlah risau, benci dan cinta
Yang berpendar pada waktu
Menggaram akar-akar nafsu
Antara Adam lagu impian ziarahmu

Seperti sejumlah kata
Yang menyalin nama-nama
Meniti buih demi buih
Jiwa kita

SAJAK BUKU TUA

Sajak Buku Tua

Oleh : Didik Siswantono

Kutemukan sebuah buku tua
di bawah almari, terhimpit kursi
lembarannya sudah lusuh
kertasnya coklat dan sobek disana-sini

Kubuka lembar demi lembar hampir tak terbaca
tapi makin lama makin asyik
tak terasa bab demi bab
menarik dan bertambah menarik

Buku itu sebuah novel
cerita mengenai laki-laki yang pergi
dari pulau kelahirannya
karena kekasih dikawin paksa

Bab terakhir ia pulang kembali
dan cerita hampir habis tanpa kuketahui
lembar terakhir hilang dan tak ketemu kucari

Jakarta, 5 juli 1979



PELAJARAN BERKICAU

Pelajaran Berkicau

Oleh : Didik Siswantono

Menyembunyikan luka di kepala, membuatku malas bertegur sapa.
Luka terpaksa mengeram lebih lama dari yang kukira. Membuka
pagi, berkicau seadanya, agar luka segera reda.

Demikianlah kisah luka di kepala yang kusimpan rapi, nyerinya
selalu beterbangan di pagi belum ada. Sambil ditemani kicau
burung di beranda dan bebunga mekar di halaman ingatan.

Lalu di subuh yang hampir sirna, luka melunglaikan raga.
Luka memang selalu ada, tinggal bagaimana kita berkicau
semampunya. Agar surga menjadi taman bunga di kepala.

2014

Popular Posts

Blogger templates

Kamis, 28 Januari 2016

MELIHAT API BEKERJA

Melihat Api Bekerja


Oleh: M Aan Mansyur


Di kota ini ruang bermain
adalah sesuatu yang hilang
dan tak seorang pun berharap
menemukannya. Anak-anak tidak
butuh permainan. Mereka akan
memilih kegemaran masing-masing
setelah dewasa. Menjadi dewasa
bukan menunggu negara bangun.
Menjadi dewasa adalah menu
favorit di restoran cepat saji.

Para tetangga lebih butuh pagar
tinggi daripada pendidikan. Sekolah
adalah cara yang baik untuk
istirahat berkelahi di rumah. Anak-
anak membeli banyak penghapus
dan sedikit buku. Terlalu banyak hal
yang mereka katakan dan gampang
jatuh cinta. Mereka menganggap
jatuh cinta sebagai kata kerja dan 
ingin mengucapkannya sesering
mungkin. Mereka tidak tahu jatuh
cinta dan mencintai adalah dua
penderitaan yang berbeda.

Jalan-jalan dan rumah kian lebar.
Semakin banyak orang yang hidup
dalam kehilangan. Harapan adalah
kalimat larangan, sesuatu yang
dihapus para polisi setiap mereka
temukan di pintu-pintu toko.
Hidup tanpa curiga adalah hidup
yang terkutuk. Kawan adalah lawan
yang tersenyum kepadamu.

Selebihnya, tanpa mereka tahu,
sepasang kekasih diam-diam
ingin mengubah kota ini menjadi 
abu. Aku mencintaimu dan kau
mencintaiku---meskipun tidak 
setiap waktu. Kita menghabiskan
tabungan pernikahan untuk beli
bensin.

Kita akan berciuman sambil
melihat api bekerja.

KATA

Kata

Oleh: Subagio Sastrowardoyo


Asal mula adalah kata
jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi
Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata
Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni

Oleh: Sapardi Djoko Darmono

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

1989

JANGAN ENGKAU MENYEBUT JUA

Jangan Engkau Menyebut Jua

Oleh: Linus Suryadi AG

Jangan engkau menyebut jua
bahwa hujan belum lagi reda
sebab kelam melalui jendela
rela menghantarkan bauan bunga

bayangan terakhir mengusir kita
kapan ruang sunyi pun kian hampa
membingkai rawan dalam kenangan
di dalam abstraksi di dalam diam

meninggalkan segumpalan daging
seolah kain dalam ayunan angin
bagaikan awan menguraikan hujan
adalah angan dalam rindu-dendam

1973

Rabu, 27 Januari 2016

RAHASIA

Rahasia

Oleh : Korrie Layun Rampan

Seperti sejumlah kata
yang menggelepar keluar
Meniti buih demi buih
Dunia yang terlantar

Seperti sejumlah musim
Yang kering, basah, dan mandi cahaya
Merangkak pada sumbu
jantung kita

Seperti sejumlah risau, benci dan cinta
Yang berpendar pada waktu
Menggaram akar-akar nafsu
Antara Adam lagu impian ziarahmu

Seperti sejumlah kata
Yang menyalin nama-nama
Meniti buih demi buih
Jiwa kita

SAJAK BUKU TUA

Sajak Buku Tua

Oleh : Didik Siswantono

Kutemukan sebuah buku tua
di bawah almari, terhimpit kursi
lembarannya sudah lusuh
kertasnya coklat dan sobek disana-sini

Kubuka lembar demi lembar hampir tak terbaca
tapi makin lama makin asyik
tak terasa bab demi bab
menarik dan bertambah menarik

Buku itu sebuah novel
cerita mengenai laki-laki yang pergi
dari pulau kelahirannya
karena kekasih dikawin paksa

Bab terakhir ia pulang kembali
dan cerita hampir habis tanpa kuketahui
lembar terakhir hilang dan tak ketemu kucari

Jakarta, 5 juli 1979



PELAJARAN BERKICAU

Pelajaran Berkicau

Oleh : Didik Siswantono

Menyembunyikan luka di kepala, membuatku malas bertegur sapa.
Luka terpaksa mengeram lebih lama dari yang kukira. Membuka
pagi, berkicau seadanya, agar luka segera reda.

Demikianlah kisah luka di kepala yang kusimpan rapi, nyerinya
selalu beterbangan di pagi belum ada. Sambil ditemani kicau
burung di beranda dan bebunga mekar di halaman ingatan.

Lalu di subuh yang hampir sirna, luka melunglaikan raga.
Luka memang selalu ada, tinggal bagaimana kita berkicau
semampunya. Agar surga menjadi taman bunga di kepala.

2014

Search Me

Mengenai Saya

Foto saya

My name is Adi Darmawan. I come from Bogor. My hobby is solitude in the darkness and write.